






PERTANYAAN
Assalamualaikum ustadz, izin bertanya
Jika kita sudah terbiasa puasa daud , tapi pada tanggal 9 dzulhijah nanti bukan jadwalnya berpuasa daud bagaimana ustad? Bolehkah tetap berpuasa juga ? Atau bagaimana ustadz ?
Jazakallah khoiir 
(+62 823-7824-xxxx)
JAWABAN








Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Apa yg dilakukannya (puasa Daud) sdh lebih dari cukup. Shingga tidak disunahkan baginya utk puasa sunah lainnya, walau tidak terlarang jika mau melakukannya, tetapi tidak dianjurkan.
Argumennya:
Dari riwayat Abdullah bin Amr bin Al-Aas radhiyallahu ‘anhu kepada keduanya, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda kepadanya: Doa yang paling dicintai Allah adalah doa Daud as. Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau biasa tidur tengah malam dan shalat sepertiganya, dan tidurnya seperenamnya. Dia akan berpuasa suatu hari dan berbuka. Satu hari
Dari Abdullah ibn Amr ibn al-As radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Muhammad ﷺ bersabda kepadanya:
“Sholat yang paling dicintai Allah adalah salat Nabi Daud ‘alaihissalam, dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud. Beliau tidur setengah malam, bangun untuk salat sepertiganya, kemudian tidur seperenamnya. Dan dia berpuasa satu hari, dan berbuka satu hari.”
(HR. Muttafaq ‘Alaih)
Di hadits lainnya menceritakan orang yang kuat Puasa Daud lalu dia minta tambahan, tapi Rasulullah ﷺ mengatakan tidak perlu, krn itu sudah yang terbaik.
Juga dari Abdullah bin Amr, dia berkata: “Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, diberitahu bahwa saya berkata: Demi Tuhan, saya akan berpuasa di siang hari, dan saya akan begadang sepanjang malam.” Aku masih hidup, maka aku berkata kepadanya: Aku mengatakannya atas nama ayahku dan ibuku.
Beliau bersabda: Kalian tidak mampu melakukan hal tersebut, maka berpuasalah dan berbukalah, lalu bangunlah dan tidurlah, lalu berpuasalah selama tiga hari dalam sebulan, karena suatu amalan yang baik pahalanya sepuluh kali lipat. Ini seperti puasa seumur hidup.
Saya berkata: Saya bisa melakukan lebih baik dari itu.
Beliau bersabda: Puasa satu hari dan berbuka dua hari.
Saya berkata: Saya bisa melakukan lebih baik dari itu.
Beliau bersabda: Puasa suatu hari dan berbuka suatu hari nanti. Itulah puasa Daud as, dan itulah puasa yang paling utama.
Saya berkata: Saya bisa melakukan lebih baik dari itu.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak ada yang lebih baik dari itu.”
Dan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash pula beliau berkata:
Sampai berita kepada Muhammad ﷺ bahwa aku berkata: “Demi Allah, sungguh aku akan terus berpuasa di siang hari dan sungguh aku akan terus shalat malam selama aku hidup.”
Lalu dia berkata kepadaku. Maka aku menjawab: “Benar, aku mengatakannya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusan kalian.”
Dia berkata:
Maka berpuasalah dan berbukalah, bangunlah di malam hari dan tidurlah. Dan berpuasalah tiga hari setiap bulannya, karena satu amalan mendapat pahala sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa sepanjang tahun.”
Aku berkata: “Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.”
Dia berkata:
“Kemudian puasa satu hari dan berbuka dua hari.”
Aku berkata: “Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.”
Dia berkata:
“Kemudian puasa satu hari dan berbuka satu hari. Itulah puasa Daud ‘alaihissalam, dan itulah puasa yang paling utama.”
Lalu aku berkata: “Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik dari itu.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak ada yang lebih penting dari itu.”
(HR. Muttafaq ‘Alaih)
Syekh Muhammad Shalih al Munajjid berkata:
Hal ini jelas bahwa tidak dianjurkan untuk menambahnya, dan kepuasan dengan jenis puasa ini akan menyelamatkan orang yang melakukannya dari biaya tambahan, dan membuat jumlah tambahan tersebut lebih disukai dan tidak diinginkan.
Ini dengan jelas menunjukkan bahwa menambah dari puasa tersebut tidaklah dianjurkan, dan bahwa mencukupkan diri dengan jenis puasa ini sudah membuat pelakunya tidak perlu memaksakan tambahan lagi. Bahkan tambahan atasnya menjadi sesuatu yang kurang utama dan tidak dianjurkan. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 297278)
Dengan demikian. Wallahu A’lam








Farid Nu’man Hasan
Terkait
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.