▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz 🙏🙏
Afwan izin bertanya ustadz🙏🙏
Apakah benar dalam hadist riwayat imam Bukhari dan imam Muslim ada perowi dari Syi’ah?..


JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Ya, ada.. tapi sangat berbeda dengan Syiah Rafidhah yang dikenal di masa saat ini..

Perawi Syiah di zaman itu hanyalah tasyayu’ (rada-rada Syiah), yaitu mereka sekedar lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dibanding sahabat lain. Mereka tidak melaknat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka masih menghormatinya. Adapun Untuk Rafidhah, yang mencaci maki para sahabat, maka yang seperti ini tidak diterima periwayatannya. Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan Rafidhah adalah yang paling banyak bohongnya.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan:

Syi’ah menurut adat-istiadat zaman dahulu adalah keyakinan bahwa Ali lebih diutamakan daripada Utsman, dan bahwa Ali benar dalam peperangannya, dan bahwa lawannya salah, dengan kedua syekh tersebut diberi prioritas dan keutamaan. Mungkin sebagian dari mereka meyakini bahwa Ali adalah makhluk terbaik setelah Rasulullah SAW, semoga Allah SWT memberinya rahmat dan memberinya kedamaian, dan jika keimanan tersebut adalah shaleh, religius, jujur, dan rajin, maka riwayatnya tidak ditolak begitu saja, apalagi jika ia bukan seorang khatib.
Adapun Syi’ah menurut adat ulama kemudian murni penolakan, sehingga riwayat Rafidhi yang mulia tidak diterima dan tidak bermartabat. Akhiri kutipan.

Syiah dalam istilah ulama terdahulu adalah keyakinan mendahulukan (mengutamakan) Ali atas Utsman, serta meyakini bahwa Ali benar dalam peperangannya dan pihak yang menyelisihinya keliru, namun tetap mendahulukan dan mengutamakan dua syaikh (Abu Bakar dan Umar). Bahkan sebagian mereka berkeyakinan bahwa Ali adalah makhluk paling utama setelah Rasulullah ﷺ.

Jika seseorang mempunyai keyakinan seperti itu, dan dia adalah orang yang wara’, religius, jujur, dan sungguh-sungguh (dalam ijtihad), maka riwayatnya tidak tertolak karenanya, apalagi jika dia bukan orang yang menyeru (kepada bid’ahnya).

Adapun Syiah dalam istilah ulama belakangan adalah rafidhah murni, maka tidak diterima riwayat dari seorang rafidhi yang ekstrim, dan tidak ada kehormatan baginya.”

(Tahdzib Tahdzib, 1/81)

Imam Adz Dzahabi menjelaskan:

Bidat ada dua jenis: Bidat kecil: seperti ekstremisme Syi’ah, atau seperti Syi’ah tanpa ekstremisme atau distorsi. Hal ini lumrah dikalangan para pengikut dan pengikutnya, begitu pula dengan agama, ketakwaan, dan kejujuran. Jika hadits orang-orang ini ditolak, sejumlah dampak kenabian akan hilang, dan ini jelas merupakan kekeliruan.
Lalu ada inovasi besar, seperti penolakan total dan berlebihan di dalamnya, dan merendahkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhu, dan menyerukan hal itu. Tipe ini tidak memberikan bukti atau martabat bagi mereka.
Selain itu, dalam perbandingan ini saya tidak membahas tentang orang yang jujur ​​atau dapat dipercaya. Sebaliknya, kebohongan adalah semboyan mereka, dan kesalehan serta kemunafikan adalah jubah mereka, lalu bagaimana laporan mengenai kondisi ini bisa diterima! Tuhan melarang!
Orang-orang Syi’ah yang terkasih di zaman Salaf dan yang mengenal mereka adalah orang-orang yang berbicara tentang Utsman, Al-Zubayr, Thalhah, Muawiyah, dan sekelompok orang yang memerangi Ali radhiyallahu ‘anhu dan menjadi sasaran hinaan mereka.
Yang paling penting di zaman dan pengetahuan kita adalah orang yang menyatakan tuan-tuan ini kafir, dan mengingkari kedua Syekh itu juga, karena ini adalah penghalang yang menyimpang dan tersandung.

“Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam:

Pertama: bid’ah kecil, seperti sikap berlebihan dalam tasyayyu’ (kesyiahan), atau sekadar tasyayyu’ tanpa berlebihan dan tanpa penyimpangan. Ini banyak terdapat pada kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in, bersamaan dengan adanya agama (ketaatan), wara’, dan kejujuran pada mereka. Seandainya hadits mereka ditolak, niscaya akan hilang sejumlah besar atsar (riwayat) Nabi, dan ini merupakan kerusakan yang nyata.

Kedua: inovasi besar, seperti rafidah (penolakan) yang sempurna dan sikap berlebihan di dalamnya, serta merendahkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan mengajak melakukan hal-hal tersebut. Maka jenis ini tidak dijadikan alat bukti (tidak digunakan riwayatnya) dan tidak ada kehormatan baginya.”

Dan juga, aku tidak mendapati—setahuku saat ini—pada kelompok ini seorang pun yang jujur dan terpercaya. Bahkan, kedustaan adalah شعار (ciri khas) mereka, dan taqiyyah serta kemunafikan adalah pakaian mereka. Maka bagaimana mungkin diterima riwayat dari orang yang keadaannya seperti ini? Sama sekali tidak, bahkan mustahil.

Syiah ekstrim (ghuluw) pada zaman Salaf dan menurut istilahnya adalah mereka yang berbicara (buruk) tentang Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Muawiyah bin Abi Sufyan, serta kelompok sahabat yang berperang melawan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan mencela mereka.

Adapun yang dianggap ekstrem di zaman kita dan menurut istilah kita adalah orang-orang kafir terhadap tokoh-tokoh tersebut, serta berangkat dari kedua syekh tersebut (Abu Bakar dan Umar). Jadi orang-orang seperti ini sesat dan tergelincir.”

(Mizanul I’tidal, 1/5-6

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Similar Posts